body { font-family: "Poppins", poppins-fallback, poppins-fallback-android, sans-serif; } /* Poppins font metrics: - ascent = 1050 - descent = 350 - line-gap = 100 - UPM: 1000 AvgCharWidth: - Poppins: 538.0103768 - Arial: 884.1438804 - Roboto: 969.0502537 */ @font-face { font-family: poppins-fallback; src: local("Arial"); size-adjust: 60.85099821%; ascent-override: 164.3358416%; descent-override: 57.51754455%; line-gap-override: 16.43358416%; } @font-face { font-family: poppins-fallback-android; src: local("Roboto"); size-adjust: 55.5193474%: ascent-override: 180.1173909%; descent-override: 63.04108683%; line-gap-override: 18.01173909%; }

Menjadi Batu Hidup Di Tengah Dunia

Renungan Katolik Hari Minggu Paskah V Tahun A
Bacaan 
1. Kis 6: 1-7
2. 1Ptr 2: 4-9
3. Injil Yoh 14: 1-12

Saudara-saudari terkasih,

Minggu Paskah V mengajak kita merenungkan siapa kita sebagai murid Kristus yang telah bangkit. Tiga bacaan hari ini menuntun kita pada satu benang merah yang kuat: kita dipanggil untuk menjadi “batu hidup”, yang dibangun di atas Kristus sebagai dasar iman, sekaligus menjadi saksi nyata di tengah dunia.

Dalam Kisah Para Rasul (Kis 6:1-7), kita melihat Gereja perdana mulai menghadapi persoalan internal. Terjadi keluhan karena pembagian bantuan tidak adil. Para rasul tidak menutup mata terhadap masalah ini. Mereka justru mengambil langkah bijaksana yakni memilih tujuh orang yang penuh Roh dan hikmat untuk melayani. Ini bukan sekadar solusi teknis, tetapi sebuah tanda bahwa Gereja adalah komunitas yang hidup—yang terus bertumbuh, berproses, dan belajar melayani dengan lebih baik.

gambar oleh Yasintus Ariman dari pexels.com

Pesan penting bagi kita: hidup beriman tidak membuat kita kebal dari masalah. Justru dalam persoalan, kita dipanggil untuk menghadirkan kebijaksanaan, keadilan, dan semangat pelayanan. Gereja bukan hanya tentang doa, tetapi juga tentang tindakan nyata yang menjawab kebutuhan sesama.

Dalam bacaan kedua (1Ptr 2:4-9), Rasul Petrus memberikan gambaran yang sangat indah: kita adalah “batu-batu hidup” yang disusun menjadi rumah rohani. Kristus sendiri adalah batu penjuru. Artinya, hidup kita mendapatkan makna dan arah ketika kita berdiri di atas Kristus. Tanpa Dia, hidup mudah goyah. Tetapi bersama Dia, kita menjadi kokoh dan mampu menjadi bagian dari bangunan besar, yaitu Gereja.

Lebih jauh lagi, kita disebut sebagai “imamat rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.” Ini bukan sekadar gelar, tetapi identitas. Kita dipilih bukan untuk berdiam diri, melainkan untuk “memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah.” Dengan kata lain, hidup kita harus menjadi kesaksian. Cara kita berbicara, bertindak, bekerja, bahkan menghadapi kesulitan—semuanya harus mencerminkan terang Kristus.

Namun, menjadi batu hidup tidak selalu mudah. Kadang kita merasa kecil, tidak berarti, bahkan tersingkir. Tapi justru di situlah Tuhan bekerja. Batu yang dianggap tidak penting bisa menjadi bagian penting dari bangunan. Tuhan tidak melihat besar kecilnya kita, tetapi kesediaan kita untuk dipakai-Nya.

Injil hari ini (Yoh 14:1-12) memperdalam pengharapan kita. Yesus berkata, “Janganlah gelisah hatimu.” Kata-kata ini sangat relevan bagi kita yang sering diliputi kecemasan: tentang masa depan, pekerjaan, keluarga, atau keadaan dunia yang tidak menentu. Yesus tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi Ia memberikan jaminan: ada tempat yang disediakan bagi kita.

Yesus juga berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Ini adalah pernyataan yang sangat kuat. Yesus bukan sekadar menunjukkan jalan, tetapi Dia sendiri adalah jalan itu. Artinya, mengikuti Yesus bukan hanya soal ajaran, tetapi relasi. Kita berjalan bersama Dia, meneladani hidup-Nya, dan mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya.

Ketika Tomas bertanya tentang jalan, Yesus menjawab dengan sederhana namun mendalam: mengenal Dia berarti mengenal Bapa. Ini mengingatkan kita bahwa iman bukan hanya soal pengetahuan, tetapi pengalaman perjumpaan. Kita diajak untuk mengenal Yesus secara pribadi—dalam doa, dalam Sabda, dan dalam kehidupan sehari-hari.

Yesus bahkan menantang kita dengan mengatakan bahwa siapa yang percaya kepada-Nya akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar. Ini bukan berarti kita lebih hebat dari Yesus, tetapi menunjukkan bahwa karya keselamatan Allah terus berlanjut melalui kita. Kita adalah perpanjangan tangan kasih Tuhan di dunia ini.

Saudara-saudari terkasih,

Dari ketiga bacaan hari ini, kita diajak untuk melihat tiga hal penting.

Pertama, kita dipanggil untuk menjadi komunitas yang peduli dan adil, seperti Gereja perdana. Jangan menutup mata terhadap kebutuhan di sekitar kita.

Kedua, kita adalah batu hidup yang dibangun di atas Kristus. Identitas kita sebagai umat pilihan harus tampak dalam cara hidup kita.

Ketiga, kita diajak untuk percaya penuh kepada Yesus sebagai jalan, kebenaran, dan hidup. Di tengah kegelisahan, Dia adalah sumber pengharapan kita.

Akhirnya, mari kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah hidup kita menjadi bagian dari bangunan rohani itu? Sudahkah kita menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat?

Semoga melalui ibadat sabda ini, kita diteguhkan untuk menjadi batu-batu hidup yang kokoh, yang tidak mudah goyah oleh tantangan zaman, dan yang terus memancarkan terang Kristus bagi dunia. Amin. 

Posting Komentar untuk "Menjadi Batu Hidup Di Tengah Dunia"